Tampilkan postingan dengan label c-real. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label c-real. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2013

First Kiss



            “Kevin oppa! Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?!” seru Effie kesal pada Kevin, partner dance-nya, saat mereka sedang latihan dance.
            “Aku tahu apa yang sedang kulakukan! Sebaiknya kau berhenti mengeluh dan turuti mauku!” balas Kevin.
            “Hey, ada apa dengan kalian?” tanya Soohyun yang sudah berada di antara mereka. Eli, Jaeseop dan Kiseop juga ikut menghampiri mereka.
            Melihat kehadiran sang kekasih, Effie segera memeluk Eli erat, seakan-akan meminta pertolangan padanya dari amarah Kevin. Eli pun membalas pelukannya dan berbisik, ‘Tenang! Semuanya akan baik-baik saja,’ pada Effie tercintanya.
            Kevin yang melihat sikap pasangan baru itu pun semakin kesal. Bukannya menjelaskan permasalahannya pada Effie, lelaki itu keluar ruang latihan sambil membanting keras pintunya saat menutupnya.
            Semua orang yang berada di ruangan itu terperangah melihat emosi Kevin. Tidak ada yang menyangka bahwa Kevin bisa seemosi itu.

***

            Kevin membasuh wajahnya berkali-kali di toilet. Baru pertama kali ini dia merasakan perasaan itu. Cemburu. Ya… dia cemburu. Dia sudah jatuh hati pada Effie saat U-KISS dan C-REAL pertama kali bertemu di Music Bank beberapa bulan yang lalu. Ternyata, Eli pun merasakan hal yang sama pada gadis itu. Bahkan Eli bergerak lebih cepat darinya dengan menyatakan cintanya pada Effie dua minggu yang lalu. Seminggu kemudian, mereka mendapat kabar bahwa U-KISS dan C-REAL akan mengadakan show kolaborasi mereka pada bulan depan. Kabar buruk bagi Kevin karena dia dan Effie harus ber-duet pada show itu.
            “Kevin-ah, apa yang tadi kau lakukan padanya?” tanya Kevin pada dirinya sendiri setelah menyadari dirinya sudah melampiaskan emosinya pada Effie. Bukan salah Effie kalau gadis itu memilih Eli sebagai kekasihnya. Eli pun tidak tahu kalau dirinya juga menyukai gadis itu dan seharusnya dia turut bahagia melihat pasangan itu bersama. Mereka saling mencintai satu sama lain. Tapi, haruskah aku turut bahagia di saat hatiku terluka melihat mereka bersama? Batin Kevin bertanya-tanya.

***

            Sementara itu, di ruang latihan…
            “Kenapa Kevin oppa bisa semarah itu padamu, Effie?” tanya Chemi saat Effie kembali bergabung dengan member C-REAL lainnya.
            Effie menghela napas berat, lalu menggeleng lemah. “Aku juga tidak tahu. Tapi, kalian lihat kan sudah berkali-kali Kevin oppa menghentikan gerakan dance kami secara mendadak. Mungkin dia marah padaku karena aku memprotesnya,” jawab Effie.
            “Tapi, kan tak seharusnya dia seperti itu!” protes Redee. “Kenapa juga Kevin oppa menghentikan gerakan dance kalian semaunya? Kulihat, kau tidak membuat banyak kesalahan saat dance tadi. Tidak ada kesalahan besar!”
            “Apa kalian tidak merasa aneh?” tanya Lenny tiba-tiba. “Tidak biasanya kan Kevin oppa bersikap seperti itu? Oppadeul U-KISS lainnya juga terkejut saat melihatnya seemosi itu.”
            “Benar juga katamu, Lenny!” timpal Ann J. “Kevin oppa sangat ramah pada kita semua. Kalian masih ingat saat pertemuan kita dan oppadeul U-KISS di Music Bank? Dia benar-benar baik pada kita.”
            “Mungkin dia sedang ada masalah,” Redee menduga.
            “Kalau memang dia punya masalah, kenapa hanya aku yang dimarahinya?” tanya Effie dengan nada setengah kesal.
            Pintu ruangan itu berdecit terbuka. Tampak Kevin yang bagian atas tubuhnya basah akibat basuhan yang dilakukannya tadi di toilet secara berlebihan. Kehadirannya membuat suasana di ruangan itu lengang. Semua orang yang di sana seakan-akan sedang menduga apa yang akan dilakukan lelaki yang terkenal dengan senyum malaikatnya itu.
            Kevin menyadari perubahan suasana akibatnya, namun dia memilih untuk tidak peduli. Kevin berjalan menghampiri member U-KISS lainnya. “Ayo, kita latihan lagi!” ajaknya. “Kita semua, C-REAL dan U-KISS.”

***

            Sore harinya, bertepatan saat latihan dance mereka selesai, Deera Nuna memberitahukan mereka bahwa ada acara makan malam bersama antara C-REAL dan U-KISS, sekalian membicarakan persiapan untuk show kolaborasi mereka.
            Kevin menghela napas berat. Kenapa juga hal seperti ini bisa terjadi? Rutuknya di dalam hati. Lelaki itu kembali merasa kesal saat melihat Effie dan Eli saling tersenyum pada satu sama lain. Tentu saja mereka senang sekali karena masih punya lebih banyak waktu untuk berdua.
            Sebelum ke restaurant yang akan menjadi tempat makan malam mereka, C-REAL kembali ke dorm mereka untuk bersiap-siap, sedangkan U-KISS kembali ke rumah masing-masing karena mereka memang tidak tinggal di dorm.
            Sesampai di rumahnya, Kevin segera mandi untuk menghilangkan keringat di tubuhnya akibat latihan tadi. Dia menatap dirinya di cermin yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya usai mandi. Aku harus terlihat tampan di hadapan Effie, batinnya. Aku tahu Effie tidak akan semudah itu jatuh cinta padaku, ditambah dengan sikapku padanya hari ini. Setidaknya, walaupun aku tidak bisa memilikinya, aku harus mempunyai hubungan yang baik dengannya. Kevin tersenyum pada bayang dirinya di cermin sambil memikirkan rencananya itu. Dia pun beranjak menuju lemarinya dan mulai memilih-milih pakaian.

***

            “Kenapa kau menjemputku?” tanya Kevin pada Eli dengan nada sedikit kesal. Mereka sedang dalam perjalanan menuju restaurant dengan mobil Eli. Kevin pun kaget saat mengetahui Eli sudah berada di depan gerbang rumahnya ketika dia akan berangkat menuju restaurant.
            Eli hanya tertawa kecil menanggapinya. “Memangnya kenapa? Aku hanya ingin berangkat bersamamu,” jawabnya. “Maafkan aku karena tidak memberitahumu sebelumnya. Aku ingin membuat kejutan kecil untukmu.”
            Kevin hanya terdiam sambil menatap ke luar jendela mobil. Wajahnya terlihat kesal. “Apa kau akan menjemput Effie?” tanyanya tiba-tiba. Jika Eli menjawab iya, habislah dia! Dia akan menjadi kambing congek di antara pasangan yang sedang kasmaran itu.
            Untungnya, Eli menggeleng. “Tentu saja tidak,” jawabnya datar. “Kami kan merahasiakan hubungan ini dari publik. Hanya U-KISS dan C-REAL yang tahu. Bahkan Deera Nuna tidak tahu kan? Kami pun sepakat untuk bersikap biasa saja, seperti sikap pada teman biasa.”
            Diam-diam Kevin menghela napas lega mendengarnya. Setidaknya dia tidak akan dibuat kesal dengan sikap pasangan baru itu selama acara makan malam berlangsung. Ah, andai saja kalian berdua memang hanya teman biasa… harapnya di dalam hati.

***

            Kevin hampir tidak bisa menahan dirinya saat melihat Effie malam itu. Saat dia menoleh pada Eli, lelaki itu pun tahu bahwa kawannya juga merasakan hal yang sama. Bahkan lebih, batin Kevin. Bagaimanapun kan dia kekasihnya.
            Malam itu, C-REAL benar-benar tampil memukau. Mereka sangat cantik dan beda dari biasanya. Sangat jauh bila dibandingkan penampilan mereka saat latihan dance dengan U-KISS. Tanpa diketahui U-KISS, C-REAL sebenarnya juga mengagumi penampilan para lelaki itu.
            Sepanjang acara makan malam, diskusi banyak dilakukan oleh petinggi-petinggi dari agensi masing-masing. Sementara C-REAL asyik berbicara dengan satu sama lain, begitu juga dengan U-KISS. Kevin sedang tidak mood untuk berbicara. Bahkan saat Kiseop menanyakan suatu hal, lelaki itu hanya berdeham mengiyakan. Entah apa yang ditanyakan Kiseop, lelaki itu tidak memperhatikannya. Tidak mau tahu lebih tepatnya.
            Sampai kemudian, Effie meminta izin untuk pergi ke toilet pada mereka semua. Kevin memperhatikan gadis itu. Akhirnya, Kevin benar-benar tidak bisa menahan dirinya dan dia meminta izin untuk keluar karena dia teringat janjinya untuk segera menelepon ibunya sesampainya dia di restaurant. Tentu saja itu hanya alasan yang dibuatnya untuk bisa keluar.
            Kevin menunggu Effie di depan pintu ruangan makan mereka. “Effie ya!” panggil Kevin setelah Effie muncul di koridor restaurant itu.
            “Oh. Kevin oppa,” hanya itu yang bisa dikatakan Effie. Gadis itu tentu saja heran dengan keberadaan Kevin di sana. “Apa acara makan malamnya sudah selesai?” tanyanya.
            Kevin menggeleng. “Masih berlangsung,” jawabnya, lalu menarik tangan Effie. “Ada yang ingin kukatakan padamu.”
            “Katakan saja.”
            “Tapi, tidak di sini. Ayo, kita pergi!”

***

            Di sebuah lorong kecil di luar bangunan restaurant itu, Kevin mengajak Effie untuk melakukan percakapan serius. Tempat itu benar-benar strategis. Tidak ada yang melewati tempat itu. Hanya ada penerangan kecil sehingga bisa menyamarkan sosok mereka.
            “Apa yang mau oppa katakan?” tanya Effie karena Kevin tak kunjung bersuara.
            Bukannya berbicara, Kevin menatap gadis itu lekat-lekat. Ada tatapan penyesalan pada tatapannya. Lelaki itu menghela napas panjang dan berkata, “Effie ya… maafkan aku… aku sudah memarahimu saat latihan tadi dan sikapku benar-benar buruk padamu, juga pada teman-teman yang lain.”
            Effie menatap wajah Kevin yang sekarang sedang menunduk. Tanpa diminta pun gadis itu sebenarnya sudah memaafkan Kevin. “Tidak apa-apa, oppa. Aku sudah memaafkan oppa,” katanya.
            “Benarkah?” tanya Kevin sangsi sambil menatap gadis itu.
            Effie mengangguk mantap. “Tapi, jangan kau lakukan lagi ya, oppa! Kau benar-benar membuatku takut,” akunya yang hanya ditanggapi Kevin dengan tawanya. Tanpa diduganya, lelaki itu memeluk tubuhnya erat, seakan-akan dia tidak mau melepaskannya. Tidak mau kehilangannya. “O-oppa…”
            “Ssshhh…” Kevin menyuruhnya diam. “Biarkan aku memelukmu, Effie ya,” katanya sambil menikmati bau tubuh Effie yang harum strawberry. “Baumu harum sekali.”
            “O-oppa… kita tidak bisa seperti ini,” kata Effie sambil mencoba melepaskan tubuhnya. Sekuat apapun dia, Kevin lebih kuat untuk menahan tubuhnya. Effie pun menyerah. “Ada apa denganmu, Oppa?” akhirnya Effie bertanya.
            “Effie ya… aku… aku mencintaimu,” aku Kevin begitu saja sambil mempererat pelukannya. “Aku sangat mencintaimu.”
            Tentu saja gadis itu terkejut bukan main. Apa yang tadi kudengar? Kevin Oppa mencintaiku?! Batinnya. “Aku salah dengar kan, oppa? Kau bilang kau…”
            Kevin segera memotong perkataan Effie dengan ciumannya di bibir Effie. Lelaki itu terus mempererat pelukannya setiap kali gadis itu ingin melepaskan diri darinya. Kevin tahu, Effie tidak bisa menerima sikapnya itu karena gadis itu tidak membalas ciumannya. Sambil menghela napas, Kevin melepaskan ciumannya. “Aku benar-benar mencintaimu, Effie.”
            Walaupun cahaya di sekitar mereka remang-remang, Kevin bisa melihat air mata yang mengalir di pipi Effie. Tanpa bicara apa-apa lagi, setelah merasa pelukan atas dirinya melemah, Effie berlari begitu saja meninggalkan Kevin sendiri.

***

            Sepulang dari acara makan malam bersama, Effie langsung mengganti bajunya dan mengasingkan diri di balkon dorm mereka. Member C-REAL lainnya tidak terlalu memperhatikan sikap Effie itu karena sudah terlalu lelah dengan semua jadwal mereka hari itu. Chemi, leader mereka, hanya menyuruh Effie untuk segera tidur karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Effie hanya mengiyakannya sambil lalu.
            Gadis itu masih mengingat pengakuan Kevin terhadapnya, dan juga ciuman itu. Tanpa disadarinya, Effie menyentuh begitu saja bibirnya dan kembali mengingat ‘rasa’ ciuman Kevin terhadapnya. Lembut dan manis, batinnya. Jadi, rasanya berciuman seperti itu. Hey, Effie! Sadarlah! Effie mulai membuyarkan lamunannya sendiri. Gadis itu kembali kesal pada Kevin. Bagaimanapun juga dia sudah mencuri ciuman pertamaku! Eli oppa saja belum menciumku! Kevin oppa benar-benar keterlaluan!!!

***

            Dua hari kemudian…
            Kevin membuka pintu ruang latihan dance mereka. Masih kosong. Lelaki itu melirik jam dinding yang tergantung di dinding ruangan itu. Pantas saja! Masih satu jam lagi latihan baru akan dimulai. Kenapa aku bisa datang secepat ini?
            Tiba-tiba, Kevin mendengar suara pintu ruangan dibuka. Lelaki itu cukup terpana setelah melihat siapa orang yang membuka pintu itu. Effie! Baru saja Effie hendak menutup pintu itu kembali, Kevin segera menarik gadis itu masuk ke dalam ruangan. “Mau kemana?” tanyanya sambil memperhatikan Effie yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Effie sengaja memalingkan wajahnya dari Kevin dan Kevin menyadari hal itu. “Ada apa denganmu?”
            “Kau jahat, oppa!” seru Effie begitu saja tanpa bisa ditahannya. Gadis itu mulai menangis.
            Kevin terkejut dengan seruan Effie. Ditambah lagi saat melihat gadis itu menangis. Kevin teringat akan kejadian malam itu. Rasa bersalah pun mulai menyerangnya. “Maafkan aku, Effie…” akunya sambil memeluk gadis itu. “Maafkan aku kalau yang kulakukan padamu waktu itu membuatmu benci padaku. Sungguh maafkan aku, Effie. Jangan membenciku,” pintanya memelas sambil mempererat pelukannya.
            “Kenapa kau tega melakukan itu padaku, oppa?” tanya Effie sambil mengisak. “Kau tahu kalau aku dan Eli oppa berpacaran. Kenapa kau tega menciumku? Kenapa kau mencuri ciuman pertamaku?”
            Kevin kembali terkejut. Dia melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu lekat-lekat dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang didengarnya tadi. “Apa kau bilang? Aku mencuri ciuman pertamamu?” ulangnya dan Effie menjawab dengan anggukan mantap. “Maafkan aku, Effie… aku sungguh tidak bermaksud…”
            “Berhenti meminta maaf padaku, oppa!” potong Effie dengan nada suara kesal. Gadis itu sudah menghentikan tangisnya. “Aku benar-benar tidak bisa menerima sikapmu itu padaku malam itu. Aku benar-benar kecewa padamu, oppa. Aku…”
            “Kumohon, jangan membenciku!” pinta Kevin sambil memegang kedua tangan Effie. “Apapun akan kuberikan untukmu, tapi, tolong jangan membenciku!”
            Effie terdiam sambil menatap wajah lelaki dihadapannya yang sedang merajuknya. Demi melihat wajah Kevin, Effie pun tidak tega dan memutuskan untuk menyetujuinya. Gadis itu mengangguk lemah.
            Kevin tersenyum bahagia melihat reaksi Effie itu. “Jadi, kau sudah memaafkan aku kan? Kita berteman?”
            Effie mengangguk sambil tersenyum kecil. “Tapi, semua tergantung padamu, oppa. Kalau kau memperlakukanku dengan baik, aku akan menjadi teman terbaikmu. Namun, kalau kau tidak memperlakukanku dengan baik, aku akan menjauhimu.”
            “As you wish, dear,” Kevin menyetujuinya sambil tersenyum. Namun, sebenarnya Kevin merasa sedih karena hubungan diantara mereka hanya sebatas teman, tidak lebih. Walaupun begitu, lelaki itu senang saat mengetahui dialah lelaki pertama yang mencium Effie. Dan sebenarnya, itu juga ciuman pertamanya.

***

Rabu, 14 November 2012

One Night



Main Cast:
-          C-REAL’s Ann J a.k.a Yeoyoon
-          U-KISS’s Dongho
-          U-KISS’s Kiseop
***

Yeoyoon tak menyangka bisa berdiri berhadapan dengan lelaki yang sangat dikaguminya itu saat ini. Dan mendengar ajakan lelaki itu untuk makan malam bersama nanti malam membuatnya senang. Sangat senang. “Oppa mengajakku makan malam bersama nanti malam?” tanyanya untuk memastikan apa yang didengarnya tadi bukan khayalannya semata.

Kiseop mengangguk mantap sambil tidak lupa mengumbar senyumannya yang bisa melelehkan hati para gadis, termasuk gadis di hadapannya itu. “Ya,” jawabnya singkat. “Apa kau tak mempercayaiku?”

Buru-buru, Yeoyoon menggelengkan kepalanya. “Tidak. Jangan berpikir negatif dulu, Oppa! Aku hanya… hanya… terkejut dengan ajakanmu itu,” akunya sambil menundukkan wajahnya yang tiba-tiba dirasakannya memanas. Merahkan wajahku saat ini? Batinnya bertanya. Tak lama kemudian, gadis itu kembali menatap Kiseop. Kali ini dengan tatapan menyelidiki. “Tapi, kenapa kau memintaku? Maksudku, Oppa dan aku tidak terlalu akrab dibandingkan Oppa dengan Jihwa Eonni, Minji, dan Hana Eonni. Dan mereka… lebih cantik dariku. Kenapa kau memintaku, Oppa?”

Kiseop yang sudah menduga sebelumnya bahwa Yeoyoon akan menayakan hal itu pun sudah menyiapkan jawabannya. “Aku sudah bosan dengan mereka. Terkadang mereka hanya menggangguku saja dengan percakapan yang membosankan.” Ditatap Yeoyoon lekat-lekat, seolah-olah ingin menaklukan gadis itu dengan tatapannya. “Jadi, kau mau kan menemaniku makan malam?”

Yeoyoon tak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak, seperti sedang menimbang-nimbang jawaban apa yang akan diberikannya. Akhirnya, gadis itu tersenyum lebar sambil mengangguk. “Aku mau, Oppa!”

Tanpa diduganya, Kiseop mengacak-acak rambutnya pelan. Membuat semburat merah muda muncul di kedua pipinya. Kiseop yang menyadari itu hanya tersenyum. Berhasil sudah rencananya. “Bagus! Kutunggu kau di D’First Restaurant pukul tujuh malam nanti. Oke?”

Sekali lagi, Yeoyoon mengangguk. Sungguh, hatinya saat ini sangat bahagia sekali.

***

“Yeoyoon!” panggil Dongho, menghentikan langkah teman dekatnya itu di gerbang sekolah. Dia berlari menghampiri Yeoyoon yang menunggunya di sana. “Kenapa kau tidak menungguku? Kau tidak ingin pulang bersamaku?” tanyanya.

Yeoyoon menepuk dahinya cukup keras. Dia lupa akan hal itu. Padahal setiap hari mereka selalu pulang sekolah bersama karena letak rumah mereka yang cukup dekat. “Maaf, Dongho! Aku lupa. Sungguh!” akunya dengan wajah penuh penyesalan. “Ayo, kita jalan!” ajaknya, lalu mereka berjalan bersama.

“Tumben sekali kau lupa. Ada apa?” tanya Dongho penasaran.

“Apanya?” tanya Yeoyoon tak mengerti sambil matanya terus menatap jalan di depannya. Pikirannya masih memikirkan acara makan malam bersamanya dengan Kiseop.

“Kenapa kau bisa lupa kalau kita setiap hari pulang bersama?” Dongho memperjelas pertanyaannya tadi. Dia bisa merasakan ada yang berbeda dengan Yeoyoon hari ini. Bukan Yeoyoon yang biasanya. Istirahat tadi pun Dongho tidak menemukannya di kelas.

Tiba-tiba, Yeoyoon menghentikan langkahnya dan memegang tangan Dongho erat, membuat langkah lelaki itu ikut terhenti. Yeoyoon menatap Dongho lekat-lekat. “Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu,” akunya dengan nada serius.

Dongho mengerut dahinya, bingung dengan sikap Yeoyoon. “Katakan saja,” katanya kemudian.

Yeoyoon terdiam sejenak, lalu berkata, “Kiseop Oppa… dia mengajakku makan malam hari ini,” membuat mata Dongho membola lebar karena terkejut.

“Kiseop Hyung? Lee Ki Seop?” tanya Dongho memastikan yang langsung dijawab Yyeoyoon dengan anggukan mantap. “Ada apa dengannya? Aneh sekali. Kalian tidak pernah terlihat mengobrol dan tiba-tiba dia mengajakmu makan malam?!”

“Aku tahu kalau ini terdengar aneh. Dongho, aku butuh bantuanmu.”

Ganti Dongho yang terdiam sejenak. Diperhatikan raut wajah Yeoyoon saat itu yang sangat memohon padanya. Tidak tega untuk mengatakan tidak, lelaki itu pun mengangguk. “Baiklah, apa yang perlu kubantu?” tanyanya dengan nada acuh.

Diam-diam, Yeoyoon menghela napas lega mendengar persetujuan Dongho. “Kau tahu kan kalau Eomma-ku tak akan mengijinkanku pergi malam-malam, kecuali jika aku pergi dengan orang yang Eomma-ku kenal. Dan kurasa, aku tidak akan mendapatkan izinnya nanti malam karena Eomma-ku tidak mengenal Kiseop Oppa. Tapi, aku sangat ingin sekali makan malam bersamanya. Kau pun tahu kalau selama ini aku sangat mengaguminya.”

Dongho sudah bisa memperkirakan apa yang akan diminta Yeoyoon padanya. “Lalu?” tanyanya singkat.

“Jadi, bisakah kau menjemputku nanti malam? Katakan saja bahwa kita akan pergi ke toko buku. Eomma sangat mengenalmu karena kita sering belajar bersama dan kurasa Eomma bisa mempercayaimu. Bagaimana?”

“Kau memintaku untuk membohongi Eomma-mu?”

“Yaaa… kurang lebih seperti itu. Hanya kali ini saja, janji! Ayolah, tolong bantu aku!” rajuk Yeoyoon dengan wajah memelas. Dia tahu sekali kalau Dongho tidak akan tega menolaknya jika dia sudah merajuk. Dan kali ini pasti lelaki itu akan mengabulkan keinginannya.

Benar saja! Dongho mengangguk pelan.

***

“Kau dimana, Dongho?!” tanya Yeoyoon pada Dongho di seberang sana melalui hand phone-nya. Jam sudah menunjukkan pukul 18.30. Hampir jam tujuh, namun Dongho tak datang juga menjemputnya. “Kau tidak melupakan rencana kita kan?”

“Aku ingat, Nona,” jawab Dongho singkat dengan nada malas. “Dan aku sudah berada di gerbang rumahmu. Tunggu saja!”

 Mendengar jawaban itu, Yeoyoon segera memutuskan telepon mereka dan buru-buru menuju jendela kamarnya yang berada di lantai dua, untuk memastikan Dongho benar-benar sudah sampai di rumahnya. Dan dia bersorak pelan setelah melihat lelaki itu sedang disambut Eomma-nya.

Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk seseorang. Pasti Eomma! Tebaknya.

“Dongho datang,” kata Eomma setelah pintu dibukakan Yeoyoon. “Kalian akan pergi ke toko buku?” tanya beliau.

“Ah! Iya, Eomma! Aku lupa bilang pada Eomma,” jawab Yeoyoon berbohong dan pura-pura lupa. “Tolong bilang Dongho untuk menungguku sebentar ya, Eomma! Aku belum siap-siap.”

“Baiklah. Jangan pulang larut malam ya!” pesan Eomma sebelum meninggalkan putrinya.

“Iya!” seru Yeoyoon sambil tersenyum. Kiseop Oppa, tunggu aku!

***

Yeoyoon cukup kaget saat melihat Dongho datang dengan motornya. Sampai saat ini dia tidak pernah melihat Dongho mengendarai motor. Dan dia agak ragu-ragu saat duduk di motornya. “Kau yakin kau bisa mengendarai dengan baik?” bisiknya sebelum mereka pergi meninggalkan rumahnya.

Dongho tertawa di balik helm full face-nya. “Tenang saja, kita akan sampai dengan keadaan baik-baik saja di sana,” jawabnya menenangkan, lalu mulai menjalankan motornya.

Perjalanan menuju restaurant yang dimaksud tidak memakan waktu yang lama. Setengah jam kemudian mereka berdua sudah sampai. Yeoyoon melirik jam tangannya, lalu mengomel. “Aku telat lima menit!” serunya kesal sambil mengembalikan helm Dongho yang sengaja dibawakan lelaki itu untuk dipakainya.

“Salahmu sendiri kenapa terlalu lama berdandan!” seru Dongho.

“Ini kan pertemuan penting yang mungkin tak akan terulang lagi. Tentu saja aku harus berdandan secantik mungkin,” kata Yeoyoon membela diri. “Aku sudah cantik kan?” tanyanya sambil berputar kecil di hadapan Dongho.

Dongho terdiam sejenak, mengagumi sosok Yeoyoon yang malam ini memang terlihat lebih cantik dari biasanya. Kemudian, lelaki itu menghela napas berat karena sadar Yeoyoon melakukan itu untuk orang lain, bukan untuknya. “Cukup cantik,” jawabnya malas-malasan.

“Benarkah?” tanya Yeoyoon lagi, kali ini dengan nada suara kecewa. Dongho hanya mengangguk dan Yeoyoon hanya cemberut menanggapinya. “Ya sudah, kau pulang sana! Nanti kau kutelepon untuk menjemputmu.”

“Hei, kau pikir aku pembantumu?! Hei, Jo Yeo Yoon, aku ini hanya ingin membantumu! Jangan seenaknya kau menyuruhku!” seru Dongho kesal.

“Tentu saja kau bukan pembantuku. Kau jangan berpikir seperti itu! Kau…”

“Tahulah! Aku pulang!”

Yeoyoon hanya terdiam sambil menatap sosok Dongho yang sedikit demi sedikit hilang dari pandangannya. Gadis itu tidak mengerti mengapa Dongho bisa sesensitif ini. Sudahlah, Yoon, lupakan tentang Dongho sebentar. Ada seseorang yang menunggumu di dalam sana, batin Yeoyoon mengingatkan.

***

“Bagaimana makan malam kita?” tanya Kiseop saat mereka selesai menyantap makanan mereka.

“Makanannya enak, Oppa! Seleramu sangat tinggi,” jawab Yeoyoon sambil tersenyum.

Kiseop tertawa kecil mendengar jawaban polos gadis yang duduk di hadapannya itu. Tanpa ragu, digenggamnya tangan Yeoyoon dan mengelusnya dengan lembut. Membuat pipi gadis itu bersemu merah. “Malam ini kau terlihat beda, Yeoyoon,” katanya dengan suara tajam.

“M-maksud Oppa…?” Karena terlalu gugup, Yeoyoon bahkan tidak bisa menyelesaikan pertanyaannya. Jantungnya berdetak kencang selama Kiseop memegang tangannya. Kenapa aku bisa seperti ini? Ya Tuhan, kenapa lelaki ini sangat keren sekali? “Apa… apa aku terlihat jelek?”

Lagi-lagi Kiseop tertawa, lalu buru-buru menggeleng kepalanya. “Bukan, bukan itu maksudku!” sahutnya cepat. Matanya menatap wajah Sasha lekat-lekat. “Kau… sangat cantik.”

Mata Yeoyoon membola. Tidak percaya dan bahagia mendengarnya. Aku sangat cantik? Tapi, Dongho bilang aku hanya cukup cantik.

“Yeoyoon,” panggil Kiseop, membuat lamunan Yeoyoon buyar. “Maukah kau menemaniku ke pesta ulang tahun temanku sekarang?” tanyanya membuat dahi Yeoyoon berkerut.

Spontan gadis itu melirik jam tangannya. Sudah jam delapan malam. Ini sih belum larut. Mungkin aku bisa menyetujuinya. “Boleh, tapi hanya sampai jam sembilan ya, Oppa? Lewat dari jam itu…”

“Kau akan dimarahi Eomma-mu kan?” Yeoyoon mengangguk malu-malu. Kiseop hanya tersenyum. Dia sudah menduga akan susah bagi gadis itu untuk bisa keluar malam. “As you wish, dear. Kita akan pulang sebelum jam sembilan,” katanya menyetujui permintaan Yeoyoon. Kiseop berdiri dari mejanya sambil menarik tangan Yeoyoon pelan. “Ayo, kita pergi!”

***

Dahi Yeoyoon mengerut bingung saat mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Rumah yang mereka tuju adalah sebuah rumah tua dan jauh dari permukiman penduduk. Gadis itu menoleh pada Kiseop yang duduk di sampingnya. “Itu rumah temanmu, Oppa?” tanyanya memastikan.

“Benar,” jawab Kiseop singkat, lalu mencabut kunci dari starter mobilnya. “Ayo, turun! Mereka pasti sudah menunggu kita,” katanya yang langsung dituruti Yeoyoon.

Yeoyoon merasa keputusannya untuk datang ke tempat itu adalah keputusan yang salah. Entah bagaimana perasaan itu bisa dirasakannya. Seiring langkahnya mendekati rumah itu, perasaannya semakin kuat. “Oppa… aku takut…” akunya sambil refleks menggenggam tangan senior-nya itu.

Kiseop terdiam sambil memandangi Yeoyoon dengan tatapan bingung. Namun, detik kemudian, lelaki itu memeluk bahu Yeoyoon dan tersenyum. “Kenapa takut? Kan ada aku,” katanya menenangkan.

Dan akhirnya, mereka sudah tiba di dalam rumah dan bertemu dengan dua orang lelaki yang sedang asik tertawa. Yeoyoon mengenali mereka. Eli dan Jaeseop, teman dekat Kiseop sekaligus senior-nya di sekolah. Kedua lelaki itu spontan terdiam dan tersenyum pada Yeoyoon saat Kiseop menyalami mereka satu per satu.

“Katamu ada pesta, Oppa. Tapi, kenapa tempat ini sepi sekali?” tanya Yeoyoon sambil melihat keadaan sekelilingnya. Rumah itu hanya diterangi lampu remang-remang. Di lantai dua malah terlihat sangat gelap. Pesta apa yang suasananya gelap-gelapan begini? batinnya bertanya.

“Kalian berdua melewatkan pestanya,” Eli yang menjawab sambil berjalan meninggalkan mereka. Entah mau kemana.

“Pestanya sudah selesai?” tanya Yeoyoon bingung. “Kalau begitu, ayo, kita pulang, Oppa!” ajaknya sambil menarik tangan Kiseop, namun, detik itu pun senior-nya itu balas menarik tangannya sehingga tubuhnya tertarik ke arah Kiseop dan sukses menubruk dada bidangnya.

“Kenapa buru-buru, Manis?” tanya Jaeseop sambil berjalan mendekati Yeoyoon dan membelai pipinya. “Kau tahu, pesta yang lainnya baru saja akan dimulai.”

Jantung Yeoyoon berdetak cepat. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Saat dirinya menatap Kiseop untuk meminta penjelasan, lelaki itu hanya tersenyum. “Aku mau pulang. Aku tidak mau ikut pesta apapun,” katanya dengan suara bergetar. Terdengar jelas kalau dirinya sedang ketakutan. “Kiseop Oppa, tolong antar aku pulang!”

“Ops! Sayang sekali, Nona. Pintunya sudah kukunci.” Tiba-tiba, Eli sudah bergabung dengan mereka lagi sambil menggoyang-goyangkan kunci di tangannya. “Kau tidak bisa kemana-mana.”

Yeoyoon segera melepaskan dirinya dari Kiseop dan berlari menuju pintu. Dia tahu bahwa usahanya untuk membuka pintu itu sia-sia, namun, dia terus saja mendobrak-dobrak pintu sambil berteriak. Air mata mulai mengalir. Pikiran-pikiran buruk terhadap apa yang akan dilakukan tiga lelaki itu terhadapnya mulai berdatangan. Membuatnya semakin takut.

Tiba-tiba, Kiseop menarik bahu gadis itu dan membalikkan tubuhnya agar menghadapnya. “Percuma kau berteriak. Tidak akan ada yang mendengarkanmu. Kau lihat sendiri tadi tidak ada rumah lain selain rumah ini di daerah ini,” katanya.

Yeoyoon merasakan kedua tangannya diikat kuat-kuat sementara mulutnya ditutup oleh lakban. Sekuat apapun gadis itu meronta saat tubuhnya dibawa paksa ke sebuah ruangan gelap, tentu tidak bisa mengalahkan kekuatan tiga senior-nya itu. Dia tidak henti-hentinya mengisak dan tetap berteriak walaupun dalam kondisi mulut tertutup.

Saat bajunya hendak dibuka Eli, seseorang menarik tubuh lelaki itu dan menonjoknya hingga tersungkur. Orang itu terlibar perkelahian dengan Jaeseop dan Kiseop. Tiga lawan satu, tentu saja orang itu cukup kewalahan. Namun, rupanya, orang itu bisa mengatasinya dengan baik, walaupun harus mengalami babak belur juga. Cukup lama perkelahian berlangsung, akhirnya tiga lelaki itu jatuh pingsan.

Walaupun orang itu sudah menyelamatkannya, Yeoyoon tetap merasa waspada saat dia berjalan mendekatinya. Orang itu melepaskan ikatan di tangannya setelah menyadari tangan Yeoyoon terikat berkat datangnya sedikit cahaya dari luar ruangan.

“S-si… siapa kau?!” tanya Yeoyoon masih penuh ketakutan setelah membuka lakban di mulutnya dengan tangannya sendiri.

Terdengar tawa kecil dari orang itu. “Ini aku, Dongho.”

Yeoyoon segera memeluk lelaki itu erat-erat sambil menumpahkan tangis penuh kelegaannya. Gadis itu merasa aman dengan kehadiran sahabatnya itu sekarang. Karena dia tahu sekali, lelaki itu akan melindunginya dan tidak akan melukainya.

***

“Sudah, berhentilah menangis!” pinta Dongho pada Yeoyoon saat mereka berada di sebuah taman umun yang letaknya cukup dekat dengan rumah gadis itu. Sepanjang perjalanan pulang pun Yeoyoon tidak henti-hentinya mengisak. Rupanya, kejadian itu sangat membekas sekali padanya. Dongho pun tidak tega melihatnya. “Jangan sampai eomma-mu mengira kau menangis karenaku!”

Mendengar itu, buru-buru Yeoyoon menghapus air matanya. Kalau Eomma sampai marah pada Dongho gara-gara aku, aku tidak akan bisa bebas berteman dengannya! Batinnya. Tiba-tiba, gadis itu menggenggam tangan Dongho erat sambil tersenyum lemah. Matanya sembab dan masih terlihat duka di sana. “Terima kasih, Dongho…” katanya tulus. “Kau pahlawanku malam ini.” Dongho hanya terkekeh sambil mengacak-acak pelan rambut Yeoyoon dengan tangan yang satunya. “Tapi, kenapa kau tahu kalau aku ada di rumah itu?” tanyanya kemudian dengan dahi mengerut, bingung.

“Sebenarnya, aku tidak pulang ke rumah saat kau menyuruhku. Aku hanya pergi ke mini market untuk membeli makanan dan balik lagi ke restaurant itu untuk menunggumu,” akunya yang membuat mata Yeoyoon membola, tak percaya.

“Kau menungguiku di sana? Tapi, kenapa aku tidak melihatmu?”

“Aku sengaja bersembunyi. Aku khawatir padamu karena pergi berdua dengan lelaki yang sebelumnya bahkan tidak pernah dekat denganmu. Saat aku melihat kalian keluar restaurant dan pergi entah kemana, kuputuskan untuk membututi kalian. Kupikir, Kiseop Hyung akan mengantarmu ke rumahmu. Ternyata, dia membawamu ke tempat tadi. Saat itu aku yakin sekali kalau dia punya maksud jahat padamu. Dan firasatku menguat saat kulihat Eli Hyung menutup pintu rumah itu. Dan…” Dongho tidak tega melanjutkan ceritanya lagi karena menyadari gadis di sampingnya itu menunduk dan dia bisa melihat air matanya terjatuh ke roknya. “Seharusnya aku tidak menyetujui rencanamu tadi siang,” katanya penuh penyesalan.

Buru-buru Yeoyoon menggeleng. “Bukan. Ini semua salahku,” katanya di sela isaknya yang mulai terdengar kembali. “Aku terlalu buta dengan pesonanya sehingga aku mau saja menyetujui apa yang dia mau. Aku bodoh! Sangat bodoh!”

“Sudahlah, Yoon. Itu sudah berlalu kan? Percuma saja kau terus mengingatnya lalu menyalahi dirimu sendiri seperti itu. Kau harus move on, ok?”

Yeoyoon mengangguk lemah. “Kau akan terus melindungiku kan? Tidak akan menyakitiku kan?”

Dongho tidak langsung menjawab. Dia menatap sahabat yang amat disayanginya itu lekat-lekat. Andai saja kau tahu perasaanku yang sebenarnya padamu, Yoon… batin Dongho berandai-andai. Akhirnya, lelaki itu mengangguk. “Ya, aku akan melindungimu dan tidak akan menyakitimu. Janji!” serunya sambil mengacungkan jari kelingkingnya yang langsung disambut dengan jari kelingking Yeoyoon. Jari mereka saling mengait sebagai tanda bahwa Dongho tidak akan mengkhianati janjinya.

***

-THE END-
14.11.12
Note: cerita ini terinspirasi dari adegan bullying dalam film Don't Cry Mommy yang diperankan oleh Dongho .__.v Enjoy! =)